Senin, 10 Desember 2012

SEBATIK


[Type the document title]
    
SMANSA

    

 










KARYA ILMIAH

SEBATIK














PERSETUJUAN PEMBIMBING

Karya Ilmiah Dengan Judul    : PULAU SEBATIK

Atas Nama Kelompok 1         : 1. ANDI YUSRI
                                                  2. FAULIANA
Jurusan                                    : XI IPS2

                                                                                    Sebatik,   Mei 2011
                                                                                    Pembimbing,


                                                                                    Nur Rahman, S.Pd
                                                                                    NIP. 19840327 200803 1 003





KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt. karena atas rahmat dan hidayah-Nyalah, sehingga kami kelompok 1,  dapat menyelesaikan tugas karya ilmiah yang berjudul “SEBATIK”. Kami mengucapkan terima kasih kepada tokoh masyarakat, lembaga pemerintahan, aparat keamanan dan juga teman-teman yang telah memberikan sedikit informasi tentang Pulau Sebatik. kami juga berharap kritikan serta saran dari teman-teman, khususnya dari guru bidang studi yang bersangkutan. Mudah- mudahan dengan adanya karya ilmiah ini, kita semua dapat mengetahui tentang pulau simpadan kita yang  tercinta ini.
                                                                                    Sebatik, 5 Mei 2011

                                                                                                Kelompok 1   













DAFTAR TABEL

Tabel C1 tabel diagram persebaran curah hujan                     6
Tabel C2 tabel persebaran curah hujan                       7
Tabel C3 tabel batas-batas wilayah kecamatan Sebatik                      8
Tabel D1 tabel distribusi penduduk kecamatan Sebatik menurut desa 2008             9
Tabel D2 tabel jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan desa 2008                   10
Tabel D3 tabel luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk 2008                   10
Tabel D4 tabel Jumlah penduduk, rumah tangga rata-rata jiwa per rumah tangga 2008                    11
Tabel D5 jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan rasio jenis kelamin 2008                  12
Tabel E1 tabel jumlah sertifikat hak atas tanah                      13
Tabel E2 tabel banyaknya dusun dan rukun tetangga menurut desa 2008                 14
Tabel E3 tabel banyaknya desa dan luas wilayah menurut kecamatan 2007 (km2)                14














DAFTAR ISI

PERSETUJUAN PEMBIMBIN                    i
KATA PENGANTAR                       ii
DAFTAR TABEL                  iii
DAFTAR ISI              iv
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang masalah                       1
Rumusan masalah                   1
Tujuan penelitian                     1
Manfaat penelitian                  1
BAB II HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pengenalan Pulau Sebatik                   2
Visi dan misi pembangunan Pulau Sebatik                 4
Keadaan geografis Pulau Sebatik                   5
Keadaan penduduk pulau sebatik                   9
Sistem pemerintahan Pulau Sebatik                13
Permasalahan umum di Pulau Sebatik                        15
Keadaan perekonomian di pulau Sebatik                   21
BAB III PENUTUP
Kesimpulan                 25
Saran               25
DAFTAR P[USTAKA                       26
LAMPIRAN               27




BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Yang melatar belakangi kami untuk meneliti tentang Sebatik, adalah agar kita dapat mengetahui keadaan Pulau Sebatik dari semua aspek, baik formal maupun informal, karena pulau sebatik, merupakan daerah tempat di mana kita menjalani kehidupan.
Rumusan Masalah
Bagaimana kita mengenal pulau Sebatik ?
Apa visi dan misi pembangunan pulau sebatik ?
Bagaimana keadaan geografis pulau Sebatik ?
Bagaimana sistem Pemerintahan pulau Sebatik ?
Apa saja permasalahan-permasalahan umum pulau sebatik ?
Bagaimana keadaan perekonomian pulau Sebatik ?
Tujuan Penelitian
Untuk mengenal pulau Sebatik
Untuk mengetahui visi dan misi pembangunan pulau sebatik
Untuk mengetahui bagaimana keadaan geografis pulau sebatik
Untuk mengetahui bagaimana sistem pemerintahan pulau sebatik
Untuk mengetahui apa saja permasalahan umum di pulau Sebatik
Untuk mengetahui bagaimana keadaan perekonomian pulau sebatik
Manfaat Penelitian
Bagi peneliti : untuk mengetahui seluk beluk tentang pulau sebatik.
Bagi siswa : untuk mengetahui secara umum tentang pulau sebatik.
Bagi guru : untuk mengetahui letak kelebihan dan kekurangan bagi peneliti.





BAB II
HASIL PENELITIAN
 DAN PEMBAHASAN
Pengenalan Pulau Sebatik
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau lebih dari 17.508 yang di ketahui. Salah satu di antara ribuan pulau tersebut adalah pulau sebatik, letak astronomis pulau tersebut, berada pada 03o 15′00″ sampai 14o 24′55″ LU dan 155o 33′00″ LS dan 4°09′24.9″LU,117°47′45.1″BT. Dengan memiliki luas wilayah 24.666 Ha, serta berbatasan langsung dengan negara Malaysia timur ( tawau , sabah ). Secara geografis Pulau Sebatik, yang terletak di ujung utara pulau kalimantan dan berhadapan langsung dengan kota Tawau            ( Malaysia ).
Pulau Sebatik adalah sebuah kecamatan  di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Indonesia.Kecamatan Sebatik terletak di ujung timur Kabupaten Nunukan, pulau Sebatik yang terbagi dua dengan Sabah, Malaysia. Kecamatan ini terdiri dari 4 desa swasembada dengan jumlah penduduk 20.283 jiwa, merupakan kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Kabupaten Nunukan. Memiliki potensi utama di bidang pertanian, perkebunan dan perikanan terutama padi, pisang, kakao, ikan teri dan udang.
Dengan pusat aktivitas pemerintahan di Desa Tanjung Karang, kegiatan ekonomi masyarakatnya berpusat di Desa Sungai Nyamuk tempat terdapatnya sejumlah sarana komersial termasuk hotel-hotel, supermarket dan bank, serta berbagai fasilitas umum dan sosial.
Di kecamatan inilah terdapat obyek wisata unggulan yaitu Pantai Batu Lumampu yang memiliki panorama laut lepas menghadap ke Blok Ambalat, dengan garis pantai yang panjang dan mempesona.
Pulau Sebatik merupakan pintu gerbang Indonesia di Kalimantan, tepatnya berada di bagian Utara Provinsi Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Negeri Sabah Malaysia. Uniknya, status kepemilikan pulau itu terbagi dua, wilayah utara pulau itu seluas 187,23 Km2, menjadi milik Malaysia, sedang wilayah bagian selatan seluas 246.61 Km2 adalah milik Indonesia Di Desa Aji Kuning Pulau Sebatik, sedikitnya terdapat 300 kepala keluarga yang berada tepat di garis perbatasan Indonesia dan Malaysia.
Bahkan ada rumah warga yang berlokasi tepat di garis perbatasan sehingga ruang tamunya masuk wilayan Indonesia, sedangkan dapurnya ada di Malaysia. Tidak mengherankan JUca kemudian sering muncul isu internasional menyangkut status kepemilikan Pulau Sebatik, yang mengakibatkan hubungan Indonesia dan Malaysia memanas dan mengalami pasang surut. Namun masyarakat Sebatik dan Tawau Malaysia tak terpengaruh, mereka tetap menjalankan hubungan yang harmonis, karena sebagian penduduk Sebalik dan Tawau iernyata masih bersaudara, mereka sama-sama berasal dari Bugis.
Secara ekonomi masyarakat Pulau Sebalik sangat bergantung kepada Malaysia khususnya ke Tawau. Hampir semua komoditas yang dihasilkan masyarakat, seperti ikan, sawit dan coklat dijual ke negerijiran. Ma-
syarakat Sebatik Juga membeli berbagai kebutuhan sehari-hari dari Tawau, sehingga tak heran Jika ada dua mata uang yang beredar di sana, yakni rupiah dan ringgit. Tapi warga setempat lebih menyukai ringgit karena nilainya lebih tinggi. Secara geografis, Pulau Sebatik lebih dekat ke Tawau yang hanya ditempuh dalam waktu 15 menit, bila dibandingkan dengan ke Pulau Nunukan yang memakan waktu 1,5Jam dengan alat transportasi yang sama dengan ongkos tiga kali lipat.
Perbedaan mencolok yang membuat iri masyarakat Indonesia di Pulau Sebatik adalahjika pada malam hari menyaksikan Kota Tawau yang bermandikan cahaya dengan gedung-gedung tinggi, sebaliknya masyarakat di Pulau Sebatik gelap-gulita dengan hanya mendapat Jatah penerangan listrik dua hari sekali. Belum lagi ketiadaan jaringan air bersih dan jalan rusak serta pelayanan kesehatan dan pendidikan yang minim, menambah lerkucilnya masyarakat Sebatik ditengah gemerlapan cahaya kemakmuran negarajiran di depan matanya.
Belajar dari sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan ligitan, sengketa blok Ambalat, pengusiran ratusan ribu TKI dan munculnya Asykar Watanlyah yang direkrut dari warga perbatasan; maka sudah sepan-tasnyalah pemerintah memberikan perhatian lebih kepada Pulau Sebalik.
Mudah-mudahan dengan surat pembaca ini pemerintah lebih peduli dan memerhatikan warganya yang ada di perbatasan, barangkalt dengan memberikan otoritas khusus seperti Balam, agar Pulau Sebatik bisa lebih maju. Kami mengusulkan agar pemerintah pusat dan daerah mendorong TNI dalam kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). lebih difokuskan untuk daerah-daerah perbatasan seperti Pulau Sebatik yang luput dari sasaran pembangunan.



Visi dan Misi Pembangunan Sebatik
Berdasarkan berbagai skenario pengembangan dan berbagai konsekuensinya, juga mencermati kondisi exiting di kecamatan Sebatik, perkembangan di dalam negeri dan lingkungan regional, kemudian telah di koordinasikan dengan berbagai kalangan yang terkait dengan pengembangan kawasan perbatasan serta tokoh masyarakat kec.Sebatik, maka di sepakati visi pembangunan kawasan perbatasan sebagai berikut.
” Menjadikan wilayah sebatik sebagai kawasan yang aman, tertib, serta menjadi salah satu pintugerbang negara dan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kecamatan Sebatik, dan menjamin integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Untuk mencapai visi yang di cita-citakan di atas, terdapat beberapa misi yang perlu dilaksanakan oleh pihak yang terkait dalam pembangunan, baik pihak pemerintah, maupun pihak swasta yaitu :
Mempercepat penyelesaian  garis batas antar negara sehungga terciptanya garis batas yang jelas dan di akui olelh kedua belah pihak ( Malaysia-Indoneia )
Mempecepat pengembangan aspek prasarana dan sarana sehingga kecamatan sebatik dapat menangkap peluang kerja sama antar negara, baik bersifat regional dan internasional, secara selektif sesuai prioritas
Meningkatkan penegaklan hukum dan keamanan yang kondusif, dengan jalan meningkatkan sistem pertahanan perbatasan kontinen dan maritim,sehingga stabilitas regional dapat tercipta dan mendukung peningkatan stabilitas nasional, apabila hal ini tercipta, maka berbagai kegiatan ekonomi, sosial dan budaya akan berjalan lancar.
Menata dan membuka keterisolasian dan ketertinggalan yang terjadi di kecamatan sebatik dengan meningkatkan prasarana dan sarana di wilayah perbatasan ini.
Menelola sumberdaya alam secara seimbang dan berkelanjutan serta berorientasi jangka panjang, bagi kesejahteraan masyarakat.
Mengembangkan sistem kerjasama pembangunan antara pemerintahan daerah dan pemerintahan pusat, antar negara, maupun antar pelaku usaha.

Keadaan geografi pulau sebatik
Kecamatan Sebatik terletak di Pulau  Sebatik yang merupakan pulau yang terbagi dua dengan Malaysia dan berhadapan langsung dengan Kota Tawau. Posisinya yang berada di daerah perbatasan Indonesia - Malaysia menjadikan Kecamatan Sebatik sebagai daerah yang strategis dalam peta lalu lintas antar negara. Wilayah Kecamatan Sebatik di sebelah Utara berbatasan langsung dengan Negara Malaysia Timur-Sabah, sebelah Timur dan sebelah Selatan dengan Laut Sulawesi,  serta sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sebatik Barat
Kecamatan Sebatik merupakan salah satu dari lima kecamatan dari kabupaten Nunukan yang berdiri pada tahun 1999 ini merupakan hasil pemekaran Kabupaten Bulungan dengan luas wilayah  104,42  km2. dan pada tahun 2006 Kecamatan Sebatik dimekarkan menjadi dua yaitu Kecamatan Sebatik dan Kecamatan Sebatik Barat. Sesuai dengan Perda Kabupaten Nunukan No. 03 Tahun 2006 Tentang Pembentukan Kecamatan Sebatik barat..
Proses penggantian panas dan uap air antara bumi dan atmosfir dalam jangka waktu yang lama menghasilkan suatu keadaan yang dinamakan iklim. Iklim merupakan suatu kumpulan dari kondisi atmosfir yang meliputi panas, kelembaban dan gerakan udara. Kecamatan Sebatik berada di wilayah khatulistiwa yang memiliki iklim tropis, sehingga mengalami 2 musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan serta dipengaruhi oleh angin muson, yaitu Muson Barat pada bulan Nopember-April dan angin Muson Timur pada bulan Mei-Oktober.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Pra Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pancang  pada tahun 2006, Rata-rata curah hujan mencapai  164,92 mm, dengan curah hujan tertinggi 299 mm pada bulan Oktober dan terendah 94 mm pada bulan Maret.









tabel C1 Diagram Persebaran Curah Hujan



















2003
2004
2005
2006
2007
2008
mm
hh
mm
hh
mm
hh
mm
hh
mm
hh
mm
Hh
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
Januari
79
4
78
4
195
6
103
7
-
-
-
-
Ebruari
167
3
81
5
110
9
97
4
-
-
-
-
Maret
59
4
57
3
105
12
84
7
-
-
-
-
April
184
12
112
10
87
5
115
12
-
-
-
-
Mei
198
14
103
9
199
4
269
6
-
-
-
-
Juni
267
9
318
17
135
13
191
4
-
-
-
-
Juli
185
5
165
5
159
6
121
11
-
-
-
-
Agustus
172
7
213
7
123
11
115
9
-
-
-
-
September
211
5
275
12
35
13
142
7
-
-
-
-
Oktober
85
6
179
11
197
5
299
5
-
-
-
-
Nopember
187
3
207
14
215
12
148
8
-
-
-
-
Desember
149
9
248
9
295
5
295
5
-
-
-
-
Rata-rata
Average
161.92
        6.75
169.67
8.83
154.58
8.42
164.92
7.08
-
-
-
-









Tabel 2.3.2 Ta Tabel C2 Tabel Persebaran Curah Hujan





Batas
Border
Utara
North
:
Malaysia Timur – Sabah
East Malaysia – Sabah
Timur
East
:
Laut Sulawesi
Sulawesi Sea
Selatan
South
:
Laut Sulawesi
Sulawesi Sea
Barat
West
:
Kecamatan Sebatik Barat
Sebatik Barat Sub Distric
Luas Wilayah
Area
Desa Tanjung Karang
:
-  Km2
Desa Tanjung Aru
:
-  Km2
Desa Sungai Nyamuk
:
-  Km2
Desa Pancang
:
-  Km2
Jumlah/Total
:
104,42 Km2








            Tabel 2.3.3  Batas Dan Luas Daerah Kecamatan Sebatik










Tabel C3 Tabel Bata-Batas Wilayah Sebatik





Keadaan Penduduk Kecamatan Sebatik
Penduduk Kecamatan Sebatik pada tahun 2008 berjumlah 20.935 jiwa dengan kepadatan penduduk mencapai 200,49 jiwa/km2.
Kepadatan penduduk pada setiap Desa menggambarkan pola persebaranpenduduk secara keseluruhan. Berdasarkan pola persebaran penduduk Kabupaten Nunukan menurut luas wilayah terlihat belum merata, sehingga terlihat adanya perbedaan kepadatan penduduk yang mencolok antar kecamatan. 
Seiring dengan semakin padatnya jumlah penduduk yang ada, jumlah keluarga yang tinggal di Kecamatan Sebatik sebesar 5.215 keluarga. Sebagian besar keluarga ini tinggal di Desa Sungai Nyamuk, sekitar 38,54%, kemudian 26,60% diantaranya tinggal di Desa Pancang sedangkan sisanya tersebar di Desa Tanjung Aru dan Tanjung Karang sebanyak 20,27% dan 14,59%.
Ditinjau dari komposisi penduduk menurut jenis kelamin, terlihat bahwa pada tahun 2008 jumlah penduduk laki-laki di Kecamatan Sebatik masih lebih banyak dibanding perempuan. Ini terlihat dari rasio jenis kelamin 113,25 artinya pada setiap 100 orang perempuan terdapat 113 orang laki-laki.

Tabel D1  tabel Distribusi Penduduk Kecamatan Sebatik Menurut Desa 2008





Tabel D2 Tabel Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Desa  2008


Luas Wilayah
Area
(km²)
Jumlah Penduduk
Population
(Jiwa)
Kepadatan Penduduk
Population Density
(Jiwa/Km²)
(1)
(2)
(3)
(4)
Tanjung Karang
-
3.375
-
Tanjung Aru
-
4.676
-
Sungai Nyamuk
-
7.227
-
Pancang
-
5.657
-
Jumlah
Total
104,42
20.935
200,49
Tabel D3 tabel Luas Wilayah, Jumlah Penduduk Dan Kepadatan Penduduk 2008





Penduduk
Population
(jiwa)
Rumah tangga
Households
(kk)
Rata-rata Jiwa/ Keluarga
Average of
Population/
Household




(1)
(2)
(3)
(4)
Tanjung Karang
3.374
761
4,43
Tanjung Aru
4.677
1.057
4,42
Sungai Nyamuk
7.227
2.010
3,60
Pancang
5.657
1.387
4,08
Jumlah
    20.935
5.215
4,01
2007
     20.283
5.163
3,93
Tabel D4 Jumlah Penduduk, Rumahtangga Dan Rata-Rata Jiwa Per Rumah Tangga 20










Laki-laki
Male
Perempuan
Female
Rasio Jenis Kelamin
Sex Ratio
(1)
(2)
(3)
(5)
Tanjung Karang
1.871
1.504
124,34
Tanjung Aru
2.438
2.238
108,98
Sungai Nyamuk
3.910
3.317
117,88
Pancang
2.899
2.758
105,11
Jumlah
Total
 11.118
 9.817
113,25
2007
10.834
9.449
114,66













Tabel D5 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dan Rasio Jenis Kelamin 2008






Sistem Pemerintahaan Kecamatan Sebatik
Secara administratif, Kecamatan Sebatik terbagi atas 4 Desa sebelumnya Kecamatan Sebatik terdiri dari 8 desa setelah terjadi pemekaran kecamatan tinggal 4 desa dan lainnya masuk wilayah Kecamatan Sebatik Barat yaitu Desa Setabu, Desa Binalawan, Desa Liang Bunyu dan Desa Aji Kuning.
Kecamatan Sebatik terdiri dari 20 Dusun dan  83 Rukun Tetangga. Desa – desa di Kecamatan Sebatik sudah Swasembada menurut Administrsi Pemerintahan dan sudah memiliki Kantor Desa dan Balai Pertemuan masing – masing. Dengan sarana dan prasarana dapat mempermudah pelayanan kepada masyarakat untuk urusan administrasi desa.

Jumlah Sertifikat Hak Atas Tanah Menurut Pendaftaran Tanah Pertama pada 2008 sebanyak 76 dan angka ini masih sama dengan tahun sebelumnya, sementara angka yang telah ditunjukkan pada tahun 2006 lebih rendah dibandingkan pada tahun 2005 yaitu 19 sertifikat dan terbanyak di tahun 2004 yaitu 369 sertifikat.
Sedangkan pembuatan akte tahun 2008 sebanyak 1.985 dan tahun 2007 sebanyak 1.468 dan tahun 2006 sebanyak 895 Akte  dan 337 akte di tahun 2005 dan terbanyak pada tahun 2004 yaitu 4433 akte.
Tabel E1 tabel Jumlah Sertifikat Hak Atas Tanah Menurut Pemeliharaan Pendaftaran Tanah 2008

Tabel  E2 Tabel Banyaknya Dusun Dan Rukun  Tetangga Menurut Desa 2007 
Desa
Villages
Dusun
Rukun Tetangga

Luas wilayah
Total Area
(1)
(2)
(3)
(4)
Tanjung Karang
6
20
39,00
Tanjung Aru
4
18
32,00
Sungai Nyamuk
4
22
26,00
Pancang
4
20
38,64
Jumlah
Total
20
83
135,64
2006
20
83
135,64














Tabel E3 Tabel Banyaknya Desa Dan Luas Wilayah Menurut Kecamatan 2007 (Km2)


Masalah-Masalah Umum di Daerah Perbatasan
Nunukan,Nextindonesia - DESA Aji Kuning di Pulau Sebatik masuk wilayah Indonesia. Warganya pun orang Indonesia tulen yang kebanyakan berasal dari suku Bone, Sulawesi. Akan tetapi, jangan salahkan jika penduduknya kebingungan kalau harus menentukan harga barang dalam mata uang rupiah. Mereka umumnya menentukan harga barang dalam mata uang ringgit Malaysia. Bukan cuma dalam soal harga barang mereka berpatokan pada Malaysia, untuk siaran televisi pun mereka lebih sering menikmati tayangan televisi Malaysia, seperti TV1, TV2, dan TV3 Malaysia. Tidak mengherankan jika kemudian mereka lebih mengetahui perkembangan sosial dan politik di Malaysia dibandingkan dengan di negeri sendiri. Oleh karena itu, mengenai demonstrasi mahasiswa memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang marak di Tanah Air, misalnya, mereka tidak tahu. Apalagi soal gosip artis yang setiap hari menghiasi televisi Indonesia, mereka betul-betulawam.
"Kalau menggunakan parabola, bisa pula menangkap siaran televisi Indonesia. Tapi, gambarnya buram dan sering tiba-tiba menghilang," kata Ny Aminah (35) yang tinggal di Desa Aji Kuning, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur seperti dikutip blog Nunukan Zoners Community.
Pulau Sebatik, yang jaraknya cuma sekitar setengah jam perjalanan laut dari ibu kota Kabupaten Nunukan, merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sabah, Malaysia. Pulau ini "terbagi" menjadi dua, sebagian masuk wilayah Indonesia dan sebagian lainnya masuk wilayah Malaysia.
Pulau Sebatik yang masuk wilayah Indonesia luasnya sekitar 24.661 hektar dan dinamakan Kecamatan Sebatik. Wilayah ini jauh lebih berkembang dibandingkan dengan wilayah yang masuk Malaysia, dan bahkan sudah ada pasar, sekolah, terminal, puskesmas, serta hotel bertingkat meskipun tidak berbintang. Penduduknya pun lebih banyak, yakni 26.400 jiwa, yang tersebar di delapan desa. Tiga desa di kecamatan tersebut berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia, yakni Desa Aji Kuning, Desa Pancang, dan Desa Liang Bunyu.   Namun, jangan bayangkan batas ketiga desa dengan Malaysia tersebut dipisahkan    sungai, tembok, atau pagar kawat berduri. Tidak ada batas apa pun yang memisahkan kedua negara, kecuali patok beton yang sudah terbenam dalam tanah                                 dan tinggal tersembul setinggi 10cm.
Bahkan, uniknya, wilayah Rukun Tetangga (RT) 14 Desa Aji Kuning secara de jure sebagian masuk wilayah Malaysia. Meski demikian, penduduk yang sudah bermukim di pulau itu sejak tahun 1975 menganggap hal tersebut bukan masalah, sebab pengukuran batas negara baru dilakukan tahun 1982 ketika permukiman sudah berkembang dan pepohonan penduduk sudah berbuah.
"Kalau dibandingkan dengan penduduk mana pun, penduduk desa sini paling sering ke luar negeri. Sebab, begitu keluar rumah dan melintasi halaman, sudah masuk ke Malaysia," kelakar Achmad (35), sambil satu kakinya menapak di wilayah Indonesia dan kaki lainnya berada di Malaysia. Hanya saja ketika akan melakukan transaksi perdagangan, penduduk Pulau Sebatik lebih suka ke kota Tawau, Malaysia, yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan laut. Selain harga barang-barangnya lebih murah, seperti gula, daging, telur, susu, dan bahkan gas elpiji, jarak tempuhnya pun lebih dekat dibandingkan dengan ke kota Tarakan yang harus ditempuh sekitar tiga jam perjalanan laut.
Sebaliknya, jika menjual hasil bumi, seperti cokelat, beras, dan lada, harga jual di Malaysia justru lebih tinggi.Secara berkelakar penduduk mengatakan, mereka tetap warga negara Indonesia, tetapi soal mencari rezeki mereka lebih suka memburu ringgit ke Malaysia. Indonesia adalah negaraku, tetapi ringgit uangku.
Bukan cuma penduduk Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Di Pulau Kalimantan daerah perbatasan ini terbentang sepanjang 1.950 kilometer meliputi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Khusus Kalimantan Timur, yang wilayah perbatasannya sedang disengketakan sekarang ini dengan Malaysia, panjang perbatasannya sekitar 1.038 kilometer atau setara panjang Pulau Jawa dan kondisinya sebagian besar berupa perbukitan serta hutan belantara. Wilayah perbatasan ini terbentang di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Nunukan.
Meskipun sangat panjang, penduduk yang bermukim di kawasan perbatasan ini cuma sekitar 104.000 jiwa. Selain jumlah penduduknya sangat minim, sarana transportasi pun sangat terbatas, bahkan sebagian besar hanya bisa dijangkau dengan menggunakan pesawat ringan jenis Cessna dan Twin Otter yang mampu mendarat di lapangan rumput desa. Kondisi ini masih ditambah lagi dengan minimnya pos-pos keamanan serta petugas di daerah perbatasan negara. Sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia-sekitar 1.950 kilometer-misalnya, hanya tersedia 30 pos perbatasan. Artinya, setiap pos harus menjaga wilayah sepanjang 65 kilometer.
"Padahal, wilayah yang harus kami amankan bukan jalan lurus, tetapi perbukitan yang curam dan terjal," kata seorang personel TNI yang bertugas di Pos Bersama Indonesia-Malaysia di Simanggaris, Kabupaten Nunukan, sekitar 1.350 kilometer dari Kota Balikpapan. Oleh karena itu, tidak gampang pula memantau patok-patok perbatasan yang jumlahnya sekitar 700 buah di Kalimantan Timur, yang tingginya cuma sekitar satu meter di tengah hutan. Apalagi jumlah personel yang diterjunkan pun sangat kurang untuk menjaga keamanan daerah perbatasan yang sedemikian luasnya.
Pemerintah Indonesia sampai saat ini hanya menerjunkan sekitar satu brigade untuk mengamankan daerah perbatasan yang terbentang sepanjang Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Pemerintah Malaysia, menerjunkan petugas pertahanan sebanyak satu divisi yang terbagi dalam tiga brigade. Kondisi di Indonesia masih ditambah lagi dengan minimnya peralatan yang tersedia di pos-pos penjagaan. Dari 30 pos yang ada di sepanjang perbatasan, hanya tersedia enam global positioning system (GPS) serta tidak ada telepon satelit untuk berhubungan dengan jalur komando. Karena itu, tidak heran jika prajurit di lapangan tanpa sengaja masuk Wilayah Malaysia atau prajurit tidak bias melaporkan apa-apa karena tidak tersedianya telepon satelit.
Melihat kondisi inilah, Gubernur Kalimantan Timur Suwarna Abdul Fatah meminta agar kawasan perbatasan ditangani secara khusus. Jika perlu, dibentuk suatu badan lintas departemen yang memiliki wewenang menangani dan membangun kawasan perbatasan. Melalui cara ini, kawasan perbatasan diharapkan bukan menjadi daerah "belakang", tetapi merupakan serambi atau "etalase" negara Indonesia. Masyarakat pun bangga berada di daerah perbatasan untuk mengawal negara sehingga tak ada lagi ungkapan Indonesia negaraku, namun ringgit mata uangku.
Buka Warung di Sana, Kulakan Barang di Sini Batas wilayah Indonesia-Malaysiadi Pulau Sebatik, Kalimantan Timur (Kaltim), hanya ditandai denganpatok-patokDsemen. Pulau kecil ituterbagi dua. Sisi selatan milik Indonesia. Sisi utara kepunyaan Malaysia. Anehnya, banyak warga Indonesia yang lebih suka tinggal di tanah Malaysia.
SEBUAH motor bemopol KT 3148 SB diparkir di rumah kayu bercat kuning, yang di terasnya berkibar Jalur Gemilang, bendera kebangsaan Malaysia. Motor berpelat nomor wilayah Kaltim itu milik Hayati Lanabe. warga Indonesia yang menyewa tanah di Kampung Sungai Melayu, Tawau, untuk tempat tinggal. Kampung tersebut hanya berjarak beberapa meter dari Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Barat. Indonesia.
Hampir setiap rumah di kampung itu wajib mengibarkan bendera kebangsaan. Bendera tersebut menjadi identitas kewilayahan. Yang menarik, kebanyakan warga yang menempati rumah-rumah di kampung itu adalah orang Indonesia. "Kebanyakan yang tinggal di kampung ini memang orang Indonesia," papar Hayati, yang membuka warung sembako di depan rumahnya.
Dia menjelaskan, lebih dari 50 warga Indonesia tinggal di Kampung Sungai Melayu. Kampung itu berdiri pada 1960-an, tapi baru sejak 1990-an ramai. Karena itu, pemerintah Malaysia menertibkannya dengan halus. Warga tidak diusir, tapi justru diberi kemudahan untuk tinggal di tanah negeri jiran tersebut.
Misalnya, untuk sewa tanah di kampung itu, Malaysia mengenakan harga yang sangat murah. Warga hanya diminta membayar RM 100 atau sekitar Rp 280 ribu untuk ukuran tanah 9x17 meter. Biaya tersebut hanya dibayar sekali Setelah itu, penyewa tidak ditarik biaya lagi, baik bulanan maupun tahunan. "Namun, bila sewaktu-waktu diminta pindah, ya harus mau," tutur Husman bin Jamal, warga lain.
Lantaran harga yang murah itu, banyak warga Indonesia di Pulau Sebatik yang lebih senang menyewa tanah di kampung sebelah, yang notabene sudah masuk wilayah Malaysia. "Harga tanah Sebatik-dengan ukuran yang sama di Sungai Melayu bisa Rp 10 juta lebih. Bagaimana kami bisa membeli? Lebih baik kami menyewa di sini, yang harganya sangat murah," lanjut Husman.
Mereka menuturkan sangat terbantu oleh kebijakan pemerintah Malaysia itu. Sebab, dengan harga sewa lahan yang murah, warga sudah bisa mendirikan tempat tinggal. Bentuk rumah penduduk Kampung Sungai Melayu tidak jauh ber-berda dengan tempat tinggal masyarakat Sebatik. Yakni, rumah panggung yang menyerupai rumah khas Bugis. Rumah-rumah itu berada di pinggir laut. "Kami memang keturunan Bugis," papar Husman.
Memang sebagian di antara sejumlah perkampungan Malaysia di Pulau Sebatik dihuni orang-orang Indonesia. Selain Kampung Sungai Melayu, ada Kampung Begusong yang terletak di sebelah utara. Menurut Husman, hidup warga di kampung sebelah utara tidak berbeda jauh dengan penduduk di wilayah tinggalnya.
Sedangkan kampung yang sebagian besar warganya asli Malaysia adalah Wallace Bay. "Perkampungan di sana lebih bagus. Sebab, rata-rata warganya bekerja di Tawau," ucapnya. Lantaran menempati wilayah Malaysia, warga Indonesia yag tinggal di Kampung Sungai Melayu harus mengikuti aturan yang berlaku di negara itu. Misalnya, warga harus mengibarkan bendera Jalur Gemilang. Warga tidak boleh mengibarkan bendera Merah Putih. Bahkan, pada setiap peringatan Hari Kemerdekaan Malaysia, 31 Agustus, seluruh warga harus mendekor kampung dengan hiasan dan bendera Malaysia.
Tapi, untuk beraktivitas, warga Kampung Sungai Melayu bebas keluar masuk wilayah Indonesia-Malaysia. Hayati, misalnya. Untuk membeli keperluan warung, dia biasa berbelanja di Desa Sungai Nyamuk di wilayah Indonesia. Selain menyeberang antarwilayah, Hayati kulakan di Tawau.
"Selama ini, tidak pernah bermasalah untuk keluar masuk Indonesia maupun Malaysia," tutur Hayati. Sebenarnya, menurut Husman maupun Hayati, hati mereka tetap cinta kepada tanah air Indonesia. Tapi, karena faktor ketiadaan secara ekonomi, mereka terpaksa tinggal di tanah Malaysia, yang harga sewa seumur hidupnya sangat murah jika dibandingkan dengan lahan di Indonesia. "Itu soal perut. Kami orang takmampu," papar dia.
Saat ditanya apakah punya idenlity card (IC) Malaysia (semacam KTP di Indonesia), mereka menjawab tidak punya. Tapi, menurut penduduk Desa Sungai Nyamuk yang sering berhubungan dengan penduduk Kampung Sungai Melayu, sebenarnya banyak warga yang mengantongi IC Malaysia. "Saya pernah ditunjuk) IC. Mungkin mereka merasa malu saja sehingga mengaku tidak punya," ucap Aswi, warga Desa Sungai Nyamuk. "Tidak mungkin ada warga yang tidak punya IC tapi bisa bertempat tinggal di wilayah Malaysia," tambahnya.
Masyarakat Kampung Sungai Melayu rata-rata berkerja sebagai nelayan serta bertani dan berkebun. Warga mengaku mendapatkan banyak bantuan dari pemerintah Malaysia. "Kami dapat pupuk murah. Harganya separo lebih murah jika dibandingkan dengan harga di pasar," ungkap Husman.
Kampung Sungai Melayu menghasilkan banyak kelapa dan beras. Hasil pertanian dan perkebunan itu tidak boleh dijual ke luar Malaysia. Mereka harus menjual ke pasar-pasar di Tawau. Nah, saat hubungan Indonesia dengan Malay-. sia kembali memanas belakangan ini, sebagian warga Kampung Sungai Melayu khawatir. Mereka menyatakan bingung akan pergi ke mana jika terjadi perang di antara dua negara itu, apakah memilih Indonesia atau Malaysia. "Dalamhati, kami sebenarnya masih orang Indonesia. Tapi, kami harus mengisi perut di sini (Malaysia, Red)." ucap Husman.
Mulai lunturnya nasionalisme pada sebagian warga Indonesia yang tinggal di Malaysia itu sangat disayangkan oleh tokoh masyarakat Pulau Sebalik H Herman Baco. Menurut dia, hal semacam itu tidak perlu terjadi jika pemerintah Indonesia benar-benar memperhatikan kondisi di wilayah perbatasan.
"Pemerintah harus lebih memperhatikan wilayah-wilayah perbatasan bila tidak ingin kehilangan warga maupun wilayah," tutur pengusaha tersebut. Herman menyadari kondisi itu sehingga terus berupaya mengantisipasi lunturnya nasionalisme warga Sebatik dengan mengembangkan ekonomi Desa Sungai Nyamuk. Dia memiliki sebuah supermarket dan 57 ruko yang disewakan dengan biaya murah bagi warga Sebatik. Dia juga mempekerjakan sekitar 70 mantan TKI untuk mengelola 500 hektare kebun kelapa sawitnya.
"Keyakinan saya, ekonomi yang baik di sini bisa mencegah warga yang ingin menyeberang ke negara tetangga," ucapnya. Selain itu, berkat sumbangan dia, kini terpasang bendera Merah Putih kecil pada dada kanan seluruh seragam sekolah siswadi Pulau Sebatik. "Itu biar mereka merasa memiliki Indonesia sejak kecil," ucapnya.
Setiap perayaan HLT RI, penduduk Pulau Sebatik juga menghelat berbagai kegiatan secara besar-besaran. Tentu saja kemeriahan tersebut tidak bisa dirasakan oleh warga Indonesia yang menetap di wilayah Malaysia. Sementara itu, warga Kampung Sungai Melayu yakin bahwa hubungan Indonesia dengan Malaysia tetap baik-baik saja. Keyakinan sama dikatakan oleh seorang anggota Marine Police Malaysia (polisi perairan Malaysia) yang bertugas menjaga perairan Sungai Melayu dan sekitarnya. Polisi yang enggan disebutkan nama-" nya itu mengatakan, kondisi wilayah perbatasan Sebatik dan Tawau hingga saat ini masih baik-baik saja.
"Kite (kita. Red) bersahabat," ucapnya sambil menyalamkan dua tangannya untuk menandakan persahabatan antara dua negara tersebut. Dia pun berkomentar tentang pembakaran bendera Malaysia dan pelemparan kotoran ke gedung Kedubes Malaysia di Jakarta beberapa waktu lalu. "Ada yang sokong (menyuruh. Red) mereka (para pendemo di Jakarta yang membakar bendera Malaysia. Red). Tak ada guna berperang," papar dia. Polisi yang saat itu mengenakan seragam doreng biru tersebut berharap hubungan ibu kota dua negara itu semakin baik. Menurut dia, tidak ada gunanya berperang. "Masak orang Islam saling bunuh? Perkuat saja ekonomi. Tak ada gunanya berperang," tegas dia.

Keadaan Perekonomian Pulau Sebatik
Sistem perekonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya baik kepada individu maupun organisasi di negara tersebut. Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ekonomi di dunia berada di antara dua sistem ekstrem tersebut.
Selain faktor produksi, sistem ekonomi juga dapat dibedakan dari cara sistem tersebut mengatur produksi dan alokasi. Sebuah perekonomian terencana (planned economies) memberikan hak kepada pemerintah untuk mengatur faktor-faktor produksi dan alokasi hasil produksi. Sementara pada perekonomian pasar (market economic), pasar lah yang mengatur faktor-faktor produksi dan alokasi barang dan jasa melalui penawaran dan permintaan.
 Jumlah Penduduk di P. Sebatik mencapai 25.590 jiwa, dan sebagian besar merupakan masyarakat pendatang dari Sulawesi Selatan. Masyarakat asli Pulau Sebatik adalahh suku Tidung, dengan mata pencarian utama menanam tanaman perkebunan (44%). mata pencarian perikanan sekitar 21 %. Sekitar 16% masyarakat Sebatik lainnya tergantung pada usaha tananam pangan. Peran sector perdagangan dan jasa dalam perekonomian ternyata cukup memberi kontribusi yang signiikan sebagai sumber mata pencarian masyarakat Sebatik.

Pada tahun 2007 sarana pendidikan Pulau Sebatik sudah ada 5 Taman Kanak-kanak, 9 Sekolah Dasar Negeri, 5 Sekolah Dasar Swasta/ Madrasyah Itbadyah, 2 SLTP Negeri, 1 SLTP Swasta, 1 SLTP Terbuka, 1 SMU Negeri dan 2 SMU Swasta/ Madrasyah Aliah. Rasio murid-guru untuk SD Negeri pada tahun 2008 sebesar 25,00 artinya seorang guru bertanggung jawab terhadap 25 murid, sedangkan untuk SD swasta rasio murid-guru sebesar 26,79. Sedangkan pada tingkat SLTP Negeri menunjukkan rasio murid-guru sebesar 24,97. dan rasio murid-guru pada tingkat pendidikan SLTA Umum Negeri adalah sebesar 25,19, sedangkan pada SLTA Umum Swasta sebesar 7,00.
Fasilitas kesehatan tersedia pada tahun 2008 terdiri dari puskesmas 1 buah induk, 2 buah puskesmas pembantu / Pondok Bersalin Desa (Polindes) 2 buah, puskesmas keliling 2 buah, klinik dokter praktek 4 buah, posyandu 15 buah serta 4 praktek bidan.
Pertanian meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan. Pada tahun 2008 luas panen padi sawah di 1.592 ha dengan produksi sebesar 7.372 ton. Padi sawah merupakan produksi terbesar bila dibandingkan dengan padi ladang dan tanaman palawija yang ada. Di sektor perkebunanan komoditi Kakao mempunyai luas areal 11.143,20 ha hasil produksi 33.250,00 ton sekarang yang menonjol adalah kelapa sawit, tanaman yang sangat disenangi oleh warga ini tumbuh dengan pesat dan kini sudah menghasilkan 6000 ton pertahun; terlebih lagi di tetangga (Malaysia) sudah ada fabrik sawit.
Pada sektor peternakan, ternak terbanyak yang dipelihara yaitu sapi potong sebanyak 2680 ekor dengan pemotongan per tahun 134 ekor , kambing sebanyak 191 ekor, dan kerbau sebanyak 707 ekor. Produksi perikanan pada tahun 2008 yaitu 2381,40 ton untuk perikanan laut dan tambak sebesar 37,86 ton dengan jumlah rumah tangga perikanan laut sebanyak 1.061 rumah tangga.
Sumber daya perikanan tangkap.  Potensi sumber daya perikanan tangkap diperairan Nunukan diperkirakan cukup besar, ikan demarsal dan udang serta ikan pelagis kecil yang tersebar disekitar perairan pulau Bukat,Pulau sebatik, Pulau Nunukan dan Pulau Sekapal. Perairan P. Sebatik diperkirakan mempunyai potensi udang sekitar 2.500 ton/tahun, sedangkan potensi ikan demersal dan pelagis mencapai 54.860- ton/tahun. Sampai saat ini tingkat pemanfaatan potensi udang telah mencapai batas MSY, sedangkan tingkat pemanfaatan ikan demersal dan pelagis sekitar 61 % (DKP dan LIPI 2001).
Alat tangkap dogol umumnya dioperasikan pada perairan muara sungai Sebaku, perairan sekitar Pulau Pulau Sebatik sampai ke perairan Tanjung Aus. Alat tangkap Pukat gondrong umumnya dioperasikan pada perairan muara sungai Sebaku, perairan sekitar Pulau Pulau Sebatik sampai ke perairan Tanjung Aus, yang digunakan untuk menangkap udang. Produksi ikan yang dominan ditangkap dengan jarrng kantong dan jaring insang adalah ikan merah, udang dan ikan kembung, masing-masing sebesar 17.001, 9.896 dan 5.698 tonm/tahun.
Pemasaran produksi ikan di Sebatik masih berupa ikan segar; industri pengolahan hasil perikanan belum bisa berkembang, karena dukungan sarana lainnya yang masih terbatas, misalnya pasokan listrik dan BBM yang tidak memadai, sehingga belum diperoleh nilai tambah hasil perikanan tangkap terutama pada saat musin panen. Saat ini mereka sepenuhnya tergantung dengan para pengusaha dari Tawao, Malaysia. Hanya karena hubungan dagang yang sudah lama dan telah baiklah yang membuat harga tidak sepenuhnya di permainkan oleh para pengusaha dari Tawao, tetapi harus diakui keuntungan besarnya tetaplah ada pada mereka.
Potensi  Budaya dan wisata. Potensi pengembangan para wisata di Pulau Sebatik terdapat kecenderungan cukup tinggi, hal ini disebabkan kedekatannya Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dan berdekatan dengan Malaysia. Jenis wisata yang propestif untuk dikembangkan adalah ekowisata berbasis ekosistem mangrove. Objek wisata lainnya yang dapat dikembangkan adalah wisata pantai Lamampu di desa Sungai Tewan dan Gosong. Kalau objek wisata ini di hubungkan dengan Tarakan serta Kepulauan Derawan pastilah akan sangat menarik. Wisatawan yang datang ke Pulau Sebatik selama ini adalah wisatawan lokal dan wisatawan dari Malaysia, khususnya disekitar daerah perbatasan.
Masyarakat Pulau Sebatik berasal dari nelayan Kabupaten Bone, sulawesi Selatan. Diperkirakan kedatangan mereka ke daerah ini adalah pada tahun-tahun 60 an. Pada saat itu Pulau Sebatik masih berupa hutan belantara sehingga disamping sebagai nelayan, mereka juga membuka lahan untuk bercocok guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada mulanya tercatat jumlah keluarga pada saat itu baru ada sekitar 30 an keluarga, mereka bermukim di pulau Sebatik.
Interaksi penduduk diwilayah perbatasan dapat berdampak positif maupun negative. Interaksi positif bila interaksi yang saling menguntungkan antar etnis yang sama didua Negara, karena adanya saling ketergantungan baik substitusi maupun komplemen sehingga pemerintah masing-masing memberika kemudahan bagi masyarakatnya dengan memberikan Cross border pass ( pass lintas batas) untuk melakukan kunjungan dagang, kunjungan keluarga dan kunjungan social lainnya yang jumlahnya kian hari semakin banyak. Sesuai kesepakatan bersama batas belanja barang saat ini masih sebesar 600 ringgit/bulan; besaran ini sudah tidak memadai lagi, terlebih lagi kalau hendak menghidupkan perekonomian di wilayah perbatasan.
Interaksi negatif merupakan interaksi yang merugikan kepentingan negara lain (terutama Negara Indonesia), sehingga perlu adanya kebijakan pemerintah dalam menangani masyarakat pulau-pulau kecil perbatasan untuk menghindari intervensi ideologi asing. Secara umum masyarakat Pulau Sebatik memiliki rasa nasionalisme yang baik, meskipun tidak berdasarkan pada prioritas suatu kelompok atas etnis tertentu. Pranata sosial yang terbentuk berasal dari hasil integrasi berbagai kepentingan kelompok terutama masyarakat Sulawesi dari berbagai etnis dan masyarakat suku tidung. Namun demikian dari berbagai referensi status sosial suku Tidung didalam eksploitasi sumber daya alam hanya sebagai buruh saja.
















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Pulau Sebatik adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Indonesia.Kecamatan Sebatik terletak di ujung timur Kabupaten Nunukan, terletak di Pulau Sebatik yang terbagi dua dengan Sabah, Malaysia. Kecamatan ini terdiri dari 4 desa swasembada dengan jumlah penduduk 20.283 jiwa, merupakan kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Kabupate Nunukan. Memiliki potensi utama di bidang pertanian, perkebunan dan perikanan
Saran
kami harapkan karya ilmiah ini bisa di pelajari dengan baik, karena banyak memuat unsur-unsur penting yang belum kita ketahui
                         











DAFTAR PUSTAKA

http://www.republika.co.id/berita/breaking-   news/nasional/10/12/29/155121-nasionalisme-di-sebatik-masak-di-            malaysia-tidur-di-indonesia
http://www.sebatik.com/2011/02/pulau-sebatik-dan-pengembangan.html
http://www.kaltimpost.web.id/index.php?mib=berita.detail&id=150           18, dalam :
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=vie   w&id=9349&Itemid=831
Wawancara langsung dengan masyarakat















































2003
2004
2005
2006
2007
2008
mm
hh
mm
hh
mm
hh
mm
hh
mm
hh
mm
hh
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
Januari
79
4
78
4
195
6
103
7
-
-
-
-
Ebruari
167
3
81
5
110
9
97
4
-
-
-
-
Maret
59
4
57
3
105
12
84
7
-
-
-
-
April
184
12
112
10
87
5
115
12
-
-
-
-
Mei
198
14
103
9
199
4
269
6
-
-
-
-
Juni
267
9
318
17
135
13
191
4
-
-
-
-
Juli
185
5
165
5
159
6
121
11
-
-
-
-
Agustus
172
7
213
7
123
11
115
9
-
-
-
-
September
211
5
275
12
35
13
142
7
-
-
-
-
Oktober
85
6
179
11
197
5
299
5
-
-
-
-
Nopember
187
3
207
14
215
12
148
8
-
-
-
-
Desember
149
9
248
9
295
5
295
5
-
-
-
-
Rata-rata
Average
161.92
        6.75
169.67
8.83
154.58
8.42
164.92
7.08
-
-
-
-




























Batas
Border
Utara
North
:
Malaysia Timur – Sabah
East Malaysia – Sabah
Timur
East
:
Laut Sulawesi
Sulawesi Sea
Selatan
South
:
Laut Sulawesi
Sulawesi Sea
Barat
West
:
Kecamatan Sebatik Barat
Sebatik Barat Sub Distric
Luas Wilayah
Area
Desa Tanjung Karang
:
-  Km2
Desa Tanjung Aru
:
-  Km2
Desa Sungai Nyamuk
:
-  Km2
Desa Pancang
:
-  Km2
Jumlah/Total
:
104,42 Km2





























Luas Wilayah
Area
(km²)
Jumlah Penduduk
Population
(Jiwa)
Kepadatan Penduduk
Population Density
(Jiwa/Km²)
(1)
(2)
(3)
(4)
Tanjung Karang
-
3.375
-
Tanjung Aru
-
4.676
-
Sungai Nyamuk
-
7.227
-
Pancang
-
5.657
-
Jumlah
Total
104,42
20.935
200,49



























Penduduk
Population
(jiwa)
Rumah tangga
Households
(kk)
Rata-rata Jiwa/ Keluarga
Average of
Population/
Household
(1)
(2)
(3)
(4)
Tanjung Karang
3.374
761
4,43
Tanjung Aru
4.677
1.057
4,42
Sungai Nyamuk
7.227
2.010
3,60
Pancang
5.657
1.387
4,08
Jumlah
    20.935
5.215
4,01
2007
     20.283
5.163
3,93




























Laki-laki
Male
Perempuan
Female
Rasio Jenis Kelamin
Sex Ratio
(1)
(2)
(3)
(5)
Tanjung Karang
1.871
1.504
124,34
Tanjung Aru
2.438
2.238
108,98
Sungai Nyamuk
3.910
3.317
117,88
Pancang
2.899
2.758
105,11
Jumlah
Total
 11.118
 9.817
113,25
2007
10.834
9.449
114,66


























Desa
Villages
Dusun
Rukun Tetangga

Luas wilayah
Total Area
(1)
(2)
(3)
(4)
Tanjung Karang
6
20
39,00
Tanjung Aru
4
18
32,00
Sungai Nyamuk
4
22
26,00
Pancang
4
20
38,64
Jumlah
Total
20
83
135,64
2006
20
83
135,64

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar